{"id":1360,"date":"2023-04-12T06:37:17","date_gmt":"2023-04-12T06:37:17","guid":{"rendered":"https:\/\/diahahah.my.id\/?p=1360"},"modified":"2023-04-16T07:18:13","modified_gmt":"2023-04-16T07:18:13","slug":"header","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diahahah.my.id\/?p=1360","title":{"rendered":"Peralihan Energi gas menjadi listrik: bagaimana dampak ekonomi dan lingkungan?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"3307\">Pemerintah mulai gencar mengusung peralihan energi gas menjadi listrik. Peralihan tersebut guna menekan&nbsp;<em>import&nbsp;<\/em>gas yang mampu menguras APBN sebesar Rp 104 triliun per tahun. Namun terakhir diketahui bahwa selain menekan APBN, usaulan pergantian gas ke listrik dikarenakan adanya&nbsp;<em>oversupply<\/em>&nbsp;listrik sebesar 6,7 GW yang dihasilkan perusahaan swasta yang memiliki perjanjian&nbsp;<em>take or pay<\/em>&nbsp;. Dimana jika tidak digunakan, pemerintah wajib menanggung denda kepada perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"1e98\">Disamping latar belakang mengapa pemerintah mengambil keputusan demikian, dari sisi keberlanjutan ekonomi Indonesia, keputusan tersebut perlu diapresiasi karena Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang memadai dibandingkan dengan negara-negara lain yang hanya memiliki lebih dari dua musim. Namun sayangnya, pemenuhan energi listrik di Indonesia masih bersumber lebih dari 50% energi batu bara 143,73 miliar ton yang sudah di eksplorasi. Batu bara merupakan penymbang emisi terbesar sekitar \u2153 dari emisi yang beredar. Hal tersebut membuat pemerintah kembali dihadapkan dengan dilema yang nyata antara keberlangsungan ekonomi dan lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"319\" height=\"158\" data-id=\"821\" src=\"https:\/\/diahahah.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/gas-lpg.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-821\" srcset=\"https:\/\/diahahah.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/gas-lpg.jpeg 319w, https:\/\/diahahah.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/gas-lpg-300x149.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 319px) 100vw, 319px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"e8bf\">Pada laporan Badan Geologi Indonesia tahun 2021 melaporkan sebanyak 143,73 miliar ton batu bara yang tersedia di Indonesia dan cadangan yang belum dieksplorasi sebesar 38,81 miliar ton. Dengan demikian Indonesia dapat dipastikan mampu memenuhi permintaan listrik selama kurang lebih 65 tahun ditambah kualitas batu bara Indonesia paling baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini tentunya akan menarik pasar dunia dan mampu menaikan GDP melalui ekspor. Jika hal ini konsisten maka pada tahun 2050 indonesia menjadi negara GDP terbesar ke 4 akan terwujud.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melihat gambaran Indonesia yang mampu bangkit pada sektor batu bara, ada beberapa keputusan yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah yaitu aspek lingkungan. Seperti yang disinggung sebelumnya, Jika energi listrik kita masih mengandalkan batu bara maka peralihan gas LPG ke listrik induksi terkesan hanya untuk menyelamatkan pemerintah dari denda\u00a0<em>oversupply\u00a0<\/em>listrik. Karena gas dan batu bara secara berkelanjutan akan menghasilkan emsisi yang cukup besar. Sementara itu negara kita telah berkomitmen untuk berkontribusi pada\u00a0<em>paris agreement<\/em>\u00a0untuk\u00a0<em>zero emission<\/em>. Sehingga dilema yang mungkin akan dihadapi pemerintah kedepannya. Mungin beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Operasional penambangan batu bara harus menerapkan CCT\u00a0<em>(Clean Coal Technology)\u00a0<\/em>dimana sistem ramah lingkunagan pada kegiatan operasional misalnya mengganti solar ke biomassa hasil limbah pertanian dan perkebunan, Menggunakan panel surya menggunakan teknologi CCT. Sehingga dalam operasional penambangan batu bara menuju\u00a0<em>zero emission.<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Pemerintah dapat menggunakan teknlogi CCS\u00a0<em>(Capturing Cabon Saving)<\/em>. CCS adalah teknologi yang digunakan untuk menangkap karbon yang ada diudara kemundian dikembalikan kembali ke tanah dan disimpan untuk menjadi fosil kembali. Dalam hal ini, ada satu peluang yang dapat meningkatkan perekomonomian negara indonesia yaitu menjual teknologi CCS tersebut kepada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan karbon di semua industri dalam bentuk emiten guna menekan GRK (Gas Rumah Kaca).<\/li>\n\n\n\n<li>Mulai berpindah ke energi terbarukan secara serempak dan berkelanjutan<\/li>\n\n\n\n<li>Percepatan eksplorasi karena harga yang terus fluktuasi dan mempercepat perpindahan ke energi terbarukan<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah mulai gencar mengusung peralihan energi gas menjadi listrik. Peralihan tersebut guna menekan&nbsp;import&nbsp;gas yang mampu menguras APBN sebesar Rp 104 triliun per tahun. Namun terakhir diketahui bahwa selain menekan APBN, usaulan pergantian gas ke listrik dikarenakan adanya&nbsp;oversupply&nbsp;listrik sebesar 6,7 GW yang dihasilkan perusahaan swasta yang memiliki perjanjian&nbsp;take or pay&nbsp;. Dimana jika tidak digunakan, pemerintah wajib menanggung denda kepada perusahaan tersebut. Disamping latar belakang mengapa pemerintah mengambil keputusan demikian, dari sisi keberlanjutan ekonomi Indonesia, keputusan tersebut perlu diapresiasi karena Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang memadai dibandingkan dengan negara-negara lain yang hanya memiliki lebih dari dua musim. Namun sayangnya, pemenuhan energi listrik di Indonesia masih bersumber lebih dari 50% energi batu bara 143,73 miliar ton yang sudah di eksplorasi. Batu bara merupakan penymbang emisi terbesar sekitar \u2153 dari emisi yang beredar. Hal tersebut membuat pemerintah kembali dihadapkan dengan dilema yang nyata antara keberlangsungan ekonomi dan lingkungan. Pada laporan Badan Geologi Indonesia tahun 2021 melaporkan sebanyak 143,73 miliar ton batu bara yang tersedia di Indonesia dan cadangan yang belum dieksplorasi sebesar 38,81 miliar ton. Dengan demikian Indonesia dapat dipastikan mampu memenuhi permintaan listrik selama kurang lebih 65 tahun ditambah kualitas batu bara Indonesia paling baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini tentunya akan menarik pasar dunia dan mampu menaikan GDP melalui ekspor. Jika hal ini konsisten maka pada tahun 2050 indonesia menjadi negara GDP terbesar ke 4 akan terwujud. Melihat gambaran Indonesia yang mampu bangkit pada sektor batu bara, ada beberapa keputusan yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah yaitu aspek lingkungan. Seperti yang disinggung sebelumnya, Jika energi listrik kita masih mengandalkan batu bara maka peralihan gas LPG ke listrik induksi terkesan hanya untuk menyelamatkan pemerintah dari denda\u00a0oversupply\u00a0listrik. Karena gas dan batu bara secara berkelanjutan akan menghasilkan emsisi yang cukup besar. Sementara itu negara kita telah berkomitmen untuk berkontribusi pada\u00a0paris agreement\u00a0untuk\u00a0zero emission. Sehingga dilema yang mungkin akan dihadapi pemerintah kedepannya. Mungin beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan, yaitu:<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1292,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1360"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1360\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1395,"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1360\/revisions\/1395"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1292"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diahahah.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}